pengiriman obat dan vaksin: prosedur, suhu, dan hal yang perlu diperhatikan
pengiriman distribusi produk farmasi membutuhkan penanganan yang lebih terkontrol dibandingkan pengiriman barang umum.Selain memastikan barang tiba di tujuan, kondisi produk perlu dijaga sesuai persyaratan penyimpanan, kemasan, transportasi, dan karakteristik masing-masing produk.
Pada distribusi jarak jauh, proses packing, penyimpanan, pemilihan moda transportasi, monitoring suhu, hingga penerimaan perlu direncanakan sejak awal. Untuk produk yang membutuhkan suhu terkendali, kondisi selama perjalanan perlu dipantau sesuai spesifikasi produk.
Mengapa Obat dan Vaksin Membutuhkan Penanganan Khusus?
Obat dan vaksin tidak dapat diperlakukan sama seperti pakaian, elektronik, atau barang umum. Setiap produk dapat memiliki persyaratan penyimpanan, suhu, kemasan, dan transportasi yang berbeda.
Persyaratan suhu dapat berbeda
Sebagian besar vaksin yang digunakan dalam program imunisasi berada dalam sistem rantai dingin dengan rentang 2°C hingga 8°C. Namun, WHO menjelaskan bahwa terdapat vaksin dengan persyaratan suhu berbeda sehingga kondisi penyimpanan dan transportasi harus mengikuti spesifikasi masing-masing produk.
Sumber resmi: WHO — Extended Controlled Temperature Conditions.
Distribusi obat memiliki standar khusus
Di Indonesia, distribusi obat memiliki ketentuan tersendiri. Salah satu regulasi yang berlaku adalahPeraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2025 tentang Standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).
Peraturan tersebut ditetapkan pada 24 Juni 2025 dan diundangkan pada 3 Juli 2025. JDIH BPOM mencatat peraturan tersebut berstatus berlaku dan mencabut ketentuan CDOB sebelumnya.
Artinya, penyimpanan, transportasi, dokumentasi, dan pengendalian kondisi produk perlu diperhatikan dalam proses distribusi.
Kesalahan penanganan dapat meningkatkan risiko
Perubahan suhu, kerusakan kemasan, keterlambatan, atau proses bongkar muat yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi produk.
Risiko menjadi lebih penting pada perjalanan jarak jauh karena barang dapat melewati beberapa titik seperti pickup, gudang, konsolidasi, transportasi antarkota, pelabuhan, dan distribusi menuju lokasi penerima.
Bagaimana Prosedur pengiriman obat dan vaksin?
Secara umum, Pengiriman Obat dan Vaksin perlu direncanakan melalui beberapa tahapan agar kondisi produk tetap sesuai selama perjalanan.
1. Periksa dokumen
Dokumen perlu diperiksa sebelum barang diberangkatkan dan disesuaikan dengan jenis produk serta jalur distribusinya.
Informasi yang perlu disiapkan dapat mencakup:
- Informasi produk
- Dokumen pengiriman
- Data penerima
- Nomor batch
- Tanggal kedaluwarsa
- Persyaratan penanganan khusus
- Dokumen pendukung sesuai kebutuhan
Kelengkapan dokumen membantu proses pemeriksaan dan penelusuran apabila terjadi kendala selama perjalanan.
2. Periksa kondisi produk
Sebelum packing, kondisi fisik barang perlu dicocokkan dengan dokumen.
Pemeriksaan dapat mencakup:
- Nama dan jenis produk
- Jumlah barang
- Nomor batch
- Tanggal kedaluwarsa
- Kondisi kemasan
- Persyaratan suhu
- Kondisi produk sebelum diberangkatkan
Pemeriksaan awal memberikan dasar dokumentasi apabila ditemukan perbedaan atau masalah pada saat barang diterima.
3. Gunakan kemasan sesuai karakteristik produk
Packing merupakan bagian penting dalam distribusi produk farmasi, khususnya untuk produk yang membutuhkan pengendalian suhu.Sistem kemasan dapat berupa insulated box, thermal packaging, cold pack, atau metode lain yang sesuai dengan persyaratan produk.Yang perlu diperhatikan bukan hanya material kemasan, tetapi kemampuan sistem tersebut mempertahankan kondisi produk selama perjalanan.
Untuk cargo dengan berat atau volume besar, kemasan juga perlu memperhatikan keamanan saat proses handling, pemindahan, dan bongkar muat.
4. Pastikan penyimpanan sebelum keberangkatan sesuai
Produk dengan persyaratan penyimpanan tertentu tidak seharusnya terlalu lama berada di area yang tidak sesuai.Sebelum diberangkatkan, barang perlu ditempatkan pada kondisi penyimpanan sesuai spesifikasi produk.Rantai pengendalian kondisi barang tidak hanya dimulai ketika kendaraan berangkat. Tahap sebelum keberangkatan juga menjadi bagian dari keseluruhan distribusi.
5. Pilih moda transportasi berdasarkan kebutuhan produk
Moda transportasi perlu disesuaikan dengan karakteristik barang dan rute.
Untuk perjalanan jarak jauh, perencanaan perlu memperhatikan transit, perpindahan moda, jadwal keberangkatan, bongkar muat, dan kondisi tujuan.
Pada pengiriman cargo menuju Indonesia Timur, perjalanan dapat melibatkan kombinasi transportasi darat dan laut sesuai rute yang tersedia. Karena itu, setiap titik perpindahan perlu diperhitungkan sejak awal.
6. Lakukan tracking dan monitoring suhu
Tracking digunakan untuk mengetahui pergerakan barang, sedangkan monitoring suhu diperlukan apabila produk memiliki persyaratan temperatur tertentu.
Temperature logger atau data logger dapat digunakan untuk mencatat kondisi suhu selama perjalanan apabila dibutuhkan oleh produk dan prosedur distribusinya.
Data tersebut dapat menjadi bagian dari dokumentasi kondisi barang selama transportasi.
7. Periksa barang saat diterima
Ketika barang tiba, penerima perlu melakukan pemeriksaan sebelum produk dipindahkan atau digunakan.
Pemeriksaan dapat meliputi:
- Kondisi kemasan
- Jumlah barang
- Identitas produk
- Nomor batch
- Kondisi suhu atau data logger jika digunakan
- Tanda kerusakan selama perjalanan
Untuk produk yang membutuhkan suhu tertentu, barang perlu segera dipindahkan ke fasilitas penyimpanan yang sesuai setelah diterima.
Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengirim?
Agar proses distribusi berjalan lebih terencana, pengirim sebaiknya memastikan:
- Persyaratan penyimpanan dan transportasi produk sudah diketahui.
- Kemasan sesuai dengan karakteristik barang.
- Keseluruhan waktu perjalanan sudah diperhitungkan.
- Titik transit dan bongkar muat sudah dipertimbangkan.
- Fasilitas penyimpanan sebelum dan sesudah transportasi sesuai.
- Dokumen dan informasi produk sudah lengkap.
- Penerima siap menerima barang.
- Monitoring suhu digunakan apabila diperlukan.
Untuk memahami aspek kendaraan dalam distribusi cargo, baca juga panduan BJA Logistic tentang jenis-jenis truk untuk pengiriman barang.
Untuk kebutuhan cargo dengan berat besar, informasi layanan dan pengecekan pengiriman BJA Logistic dapat digunakan sebagai referensi sebelum menentukan kebutuhan transportasi.
Bagaimana Cold Chain Bekerja pada Distribusi Vaksin?
Cold chain merupakan sistem untuk menjaga produk tetap berada pada kondisi suhu yang dipersyaratkan selama penyimpanan dan transportasi.
WHO menjelaskan bahwa vaksin perlu dipertahankan pada kondisi penyimpanan yang direkomendasikan selama produksi, penyimpanan, handling, transportasi, hingga penggunaan. Mayoritas vaksin program imunisasi menggunakan rantai dingin 2°C hingga 8°C, tetapi terdapat produk dengan persyaratan berbeda.
Karena itu, suhu tidak boleh disamaratakan untuk semua vaksin. Informasi produk dan ketentuan dari produsen menjadi dasar dalam menentukan metode penyimpanan serta transportasi.
Dalam perjalanan jarak jauh, pengendalian suhu perlu diperhatikan pada setiap titik perpindahan, bukan hanya ketika kendaraan sedang berjalan.
Apa Tantangan Distribusi Farmasi ke Indonesia Timur?
Distribusi menuju Indonesia Timur membutuhkan perencanaan tambahan karena karakter perjalanan antarpulau dan kondisi operasional pada setiap titik dapat berbeda.
Beberapa faktor yang perlu diperhitungkan antara lain:
- Jadwal transportasi pada rute tertentu
- Waktu transit antarpulau
- Proses bongkar muat
- Kondisi cuaca
- Jarak dari pelabuhan ke lokasi penerima
- Ketersediaan fasilitas penyimpanan
- Potensi keterlambatan pada titik transit
- Koordinasi dengan penerima
Untuk produk yang membutuhkan kondisi terkendali, tambahan waktu transit perlu masuk dalam perencanaan sejak awal.
Karena itu, pengiriman ke wilayah timur sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan biaya, tetapi juga kesiapan proses dari titik pickup sampai barang diterima.
Apakah Semua Vaksin Harus Disimpan pada Suhu yang Sama?
Tidak.
Persyaratan suhu dapat berbeda berdasarkan jenis vaksin dan spesifikasi produknya. WHO mencatat bahwa terdapat vaksin dengan kondisi penyimpanan dan distribusi yang berbeda.
Pengirim tidak seharusnya menetapkan satu standar suhu untuk seluruh vaksin. Informasi produk perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum menentukan kemasan, transportasi, dan sistem monitoring.
Kesimpulan
Pengiriman Obat dan Vaksin membutuhkan perencanaan yang lebih detail dibandingkan pengiriman barang umum. Pemeriksaan produk, dokumen, packing, penyimpanan, moda transportasi, monitoring, dan proses penerimaan perlu disesuaikan dengan karakteristik produk.
Untuk produk yang membutuhkan pengendalian suhu, rantai dingin perlu dijaga dari tahap penyimpanan hingga transportasi dan penerimaan. Persyaratan suhu juga tidak boleh disamaratakan karena setiap produk dapat memiliki ketentuan berbeda.
Bagi pengiriman cargo jarak jauh ke Papua dan Indonesia Timur, perencanaan perlu mempertimbangkan transit, perpindahan moda, jadwal transportasi, bongkar muat, dan kondisi di lokasi tujuan.
Jika membutuhkan layanan untuk produk farmasi, pastikan terlebih dahulu jenis produk, persyaratan suhu, berat atau volume, tujuan, serta kebutuhan penanganannya. Data tersebut diperlukan agar metode transportasi dapat ditentukan dengan tepat.


